Bukan survey memang, ini hanya sekedar obrolan warung kopi dengan beberapa pedagang kecil di pinggir jalan, pedagang gudeg, pedagang sate, pedagang pulsa, pedagang minuman dan beberapa pedagang lainnya. Saya sempat bertanya kepada mereka : ” Sudah punya pilihan untuk pemilu caleg ini?”, 100% mereka bilang : ” Ah…kenal pun tidak, kalaupun kenal belum tentu kami pilih….jadi pemilu caleg sekarang kami tidak akan memilih, nggak tahu yah kalau nanti pemilihan presiden …”, dengan nada lirih dan terlihat tidak bersemangat.
Memang tidak usah disimpulkan, obrolan ini tidak mewakili polling survey yang dilakukan banyak orang, namun ini hanya sebuah gambaran kecil yang terjadi di masyarakat kecil. Rata-rata mereka sudah bosan, apatis karena tidak ada perubahan, yang mereka rasakan, hidup itu berat, segalanya berat, cari uang susah, sekolah juga mahal walaupun sekarang sudah digratiskan, tapi biaya yang lainnya seperti transpor, buku-buku dan jajan anak-anak mereka. Apalagi kalau harus melanjutkan sampai ke perguruan tinggi yang sekarang tambah jauh dari orang-orang kecil seperti mereka.
Mereka seolah tidak peduli dengan fatwa “haramnya” MUI, bergelut dengan kesulitan setiap haripun sudah melelahkan, apalagi harus berfikir milih-milih caleg. Sempat saya tanyakan : ” Kan ini untuk merubah nasib negara secara keseluruhan?”, lantas mereka cuma bilang : ” dari dulu juga ngomongnya begitu mas…., tapi buktinya sekarang…tetap aja tidak ada perubahan…”. Begitulah komentar mereka.
Tak kenal maka tak sayang, para caleg ini mau disayang bagaimana, kenalpun tidak, seharusnya KPU memfilter caleg ini dengan kriteria tertentu, misalnya ada semacam tes, apakah tes kejujuran, tes kesosialan, tes kepemimpinan , tes pengetahuan, tes psikologi, sehingga yang boleh menjadi caleg adalah mereka yang telah lulus serangkaian tes tersebut. Masyarakat yang tidak kenal dengan calonpun akan punya dasar alternatif untuk menentukan pilihannya.
Kasihan juga ya para Caleg yang sudah mengeluarkan dana besar untuk membuat atribut jika tidak ada yang memilih dengan jumlah yang siginifikan.